Loading…

Bisnis Online Modal 10ribu Hasil Jutaan Klik DISINI

Sejarah, Asal Usul, Jenis dan Proses Terbentuknya Galaksi

Sejarah, Asal Usul, Jenis dan Proses Terbentuknya Galaksi – Ritaelfianis.com – Di alam semesta, terdapat beragam jenis benda-benda angkasa, seperti planet, asteroid hingga galaksi.

Planet kita, Bumi termasuk dalam gugusan galaksi bimasakti. Tak hanya bimasakti, masih banyak jenis galaksi di alam semesta ini.

Di malam hari, kita dapat melihat galaks-galaksi tersebut yang terdiri dari gugusan sekumpulan bintang.

Galaksi sendiri ialah sebuah sistem yang beurukuran sangat besar di alam semesta, dimana sistem tersebut tersusun dari sekumpulan mlayaran bintang-bintang serta materi-materi yang terdapat diantara bintang tersebut.

Di tiap galaksi mempunyai sebuah inti yang tersusun dari bintang-bintang yang berumur tua dan memiliki jarak berdekatan.

Galaksi-galaksi di alam semesta memiliki beragam bentuk, seperti elips, spiral dan ada pula yang tidak beraturan. Luas dari galaksi sendiri dapat mencapai 100.000 tahun cahaya.

Artikel dibawah ini akan memberi penjelasan tentang sejarah, asal-usul, jenis dan proses terbentuknya galaksi. Yuk, simak penjelasan di bawah ini!

SEJARAH GALAKSI

Galileo adalah ilmuwan pertama yang mengamati adanya galaksi di alam semesta melalui pengamatan nya menggunakan teleskop di tahun 1609.

Hal ini didasari pada kabut cahata milky way di langit dan menyimpulkan bahwa kabut cahaya tersebut sesungguhnya terdiri dari milyaran bintang yang cahayanya melemah karena jauhnya jarak mereka dari Bumi.

Milky way sendiri kemudian diketahui sebagai kumpulan bintang yang letaknya berada dapa galaksi bimasakti.

Lalu pada tahun 1755, Thomas Wright melakukan pengamatan serupa pada galaksi dan menemukan bahwa matahari sebagai pusat tata surya kita terletak pada kumpulan bintang tersebut.

Ia menemukan adanya gaya gravitasi atau gaya tarik yang terdapat di dalam galaksi.

Kemudian di tahun 1845, Lord Rose dapat membedakan bentuk-bentuk pada galaksi; yakni nebula spiral dan nebula elips, melalui pengamatan menggunakan teleskop.

Berbagai pengamatan pun menyusul seiring penemuan Lord Rose, sampai pada tahun 1912, Henrietta Swan Leavitt menemukan adanya Awan Magellan yang letaknya cukup jauh dari Bimasakti, yakni 500.000 TC.

Hal ini menjadi penanda bahwa benda langit tersebut bukan anggota dari Bimasakti dan membuktikan adanya sejumlah galaksi lain di alam semesta.

Disusul Hubble di tahun 1920, ia mengemukakan teori baru, yaitu Teori Hubble, dimana ia berhasil menyelesaikan bagian luar spiral untuk menjelaskan Bimasakti dan kedudukannya.

George Ellery Hale dan Harlow Shapley adalah orang-orang yang membangun pengertian tentang galaksi dan memaparkan dua macam nebula, yakni nebula spiral dan nebula gas.

Shapley telah mengembangkan metode yang berguna untuk mengukur jarak yang ia terapkan dalam mengukur Galaksi Bimasakti.

Hale sendiri berperan penting dalam mengembangkan teleskop dengan ukuran besar yang digunakan untuk mengamati nebula dan bintang.

Berkat temuan-temuan para ahli tersebut, kita dapat mengetahui ada banyak jenis galaksi yang terdapat di alam semesta.

ASAL-USUL GALAKSI

Terdapat beberapa teori mengenai terbentuknya galaksi-galaksi yang ada di alam semesta, salah satunya adalah Teori Big Bang atau Teori Dentuman Besar.

George Lemaitre, salah seorang biarawan Katolik Roma Belgia, merupakan orang pertama yang mengemukakan pemikiran terbentuknya galaksi melalui sebuah ledakan dahsyat yang ia sebut sebagai ‘hipotesis atom purba’.

Galaksi adalah sistem yang terdiri dari kumpulan bintang, gas, matahari, nebula dan beberapa materi lainnya.

Pembentukan galaksi berawal dari berkumpulnya debu kosmis yang terdiri dari atom helium, hidrogen serta debu kosmis lainnya yag kemudian membentuk materi pembentuk bintang.

Debu-debu kosmis ini sendiri berasal dari ledakan sebuah bintang berukuran raksasa yang terbentuk setelah Big Bang.

Debu kosmis tersebut kemudian melakukan pennarikan pada partikel-partikel yang ada disekitarnya hingga membentuk bagian esar.

Pada saat yang sama, kumpulan debu kosmis tersebut membentuk gaya tarik atau gaya gravitasi yang membuat tiap-tiap bagiannya terikat satu sama lain dan membentuk sebuah inti padat yang nantinya menjadi inti dari bintang.

Seiring dengan pemadatan debu-debu kosmis tersebut, suhu pada kumpulan debu semakin meningkat pula.

Ketika suhu dari kumpulan materi mencapai 10 juta derajat, maka terjadilah reaksi nuklir dan calon inti bintang akan menyala.

Proses tersebut itulah yang disebut dengan bintang muda.

Kemudian, bintang muda ini akan meledak atau biasa disebut supernova; bintang muda ini akan melemparkan semua materi yang ada di dalam sistemnya ke alam semesta.

Debu-debu hasil lemparan tersebut kemudian akan menggumpal di beberapa tempat, memadat dan menyala lalu membentuk bintang muda yang lebih kecil dari sebelumnya hingga akhirnya membentuk bintang seukuran matahari.

Rangkaian proses tersebut memerlukan waktu hingga 500 juta tahun lamanya.

Inti dari bintang yang ditinggalkan oleh lapisan luar akan mengalami kehabisan bahan bakar dan kemudian tidak dapat melakukan reaksi nuklir kembali hingga akhirnya menjadi benda langit berwarna putih yang tidak dapat memijarkan sinar, dan kemudian perlahan-lahan mati lalu menghilang.

Pada alam semesta ini terdapat ribuan galaksi lainnya yang tersusu dari kumpulan bintang-bintang.

Susunan penyusun alam semesta ialah kabut-kabut esktra galaksi yang menyebar di beberapa tempat.

Ruang-ruang antar satu galaksi dengan galaksi yang lain disebut dengan zat intergalaksi yang dimana ruang ini tidak pernah kosong atau selalu terisi.

JENIS-JENIS GALAKSI

Berdasar pada morfologi atau bentuknya, galaksi dibedakan menjadi 3 jenis, diantaranya:

  • Galaksi Elips

Seperti namanya, galaksi ini memiliki bentuk menyerupai elips, namun bentuk asli dari galaksi ini masih belum jelas karena dinamakan galaksi elips berdasarkan pengamatan para ahli dari bagian samping galaksi; bentuk asli bisa menyerupai bola pepat ataupun bundar.

Komposisi dari galaksi ini pun juga tidak nampak dengan jelas, namun yang pasti galaksi ini mengandung sedikit materi antar bintang dan penyusun galaksi ini ialah kumpulan bintang berusia tua.

Galaksi elips merupakan  galaksi yang terlihat menonjol di langit, namun sebenarnya mayoritas galaksi di alam semesta memiliki tingkat luminusitas yang rendah sehingga sulit untuk terlihat dengan mata telanjang.

Di galaksi elips tidak ditemukan nebula dan tidak adanya pembatas dengan ruang angkasa menjadikan galaksi ini sukar ditentukan ukurannya. Hal ini dikarenakan bintang-bintang yang letaknya sangat jauh dari intinya.

Ciri-ciri dari galaksi elips antara lain:

  • Ukuran sukar ditentukan
  • Tidak terdapat nebula
  • Mengandung sedikit materi antar bintang
  • Bentuk asli tidak diketahui namun diperkirakan bola pepat atau bundar

Contoh dari galaksi elips ialah Galaksi Messier 87 atau Galaksi M87 yang berukuran raksasa dan terletak di Rasi Virgo.

  • Galaksi Spiral

Galaksi spiral adalah galaksi yang sudah dikenal secara umum oleh masyarakat, dimana galaksi ini memiliki bagian yang disebut hallo dan bulge.

Bulge sendiri adalah pusat dari galaksi yang memiliki bentuk menonjol dan merupakan bagian terpadat. Di sisi lain, hallo ialah bagian lengan pada galaksi spiral ini.

Pada Bimasakti, pusat dari galaksi terletak mengarah ke Rasi Sagitarius. Namun pengamatan lebih lanjut dirasa sukar karena banyaknya bintang pada galaksi yang melakukan penyerapan cahaya.

Bintang penyusun galaksi ini terdiri dari bintang tuda dan muda; bintang tua menyebar di bagian gugus bola dan menyelimuti galaksi.

Gugus inilah yang kemudian membentuk hallo atau lengan galaksi bersama dengan bintang-bintang lain yang letaknya di luar galaksi, sedangkan bintang muda diselimuti dengan materi antar bintang.

Galaksi spiral melakukan rotasi dalam kecepatan tinggi bahlan lebih cepat dibandingkan galaksi elips.

Kecepatan rotasi galaksi inilah yang menyebabkan galaksi berbentuk pipih dan menyerupai piringan.

Kecepatan rotasi pada galaksi ini dipengaruhi oleh materi dan massa di dalam galaksi itu sendiri; semakin condong ke arah pusat galaksi, maka kecepatan semakin besar dan berlaku sebaliknya.

Ciri-ciri dari galaksi spiral antara lain:

  • Memiliki hallo dan bulge
  • Berbentuk spiral
  • Memiliki kecepatan rotasi yang tinggi
  • Memiliki lengan spiral yang mengelilingi pusat pada wilayah khatulistiwa
  • Memiliki inti yang berbentuk batang atau roda
  • Memiliki selubung bulat yang membungkus pusat, dimana selubung ini terdiri dari bintang dan gugusnya

Contoh galaksi spiral yakni Galaksi Bimasakti, M51, M33 dan Andromeda.

  • Galaksi Tak Beraturan atau Irregular

Seperti namanya, galaksi irregular memilii bentuk yang tak beraturan dan cenderung tidak simetris.

Ciri-ciri dari galaksi irregular antara lain:

  • Tidak memiliki bentuk khusus dan cenderung tidak simetris
  • Letaknya dekat dengan Galaksi Bimasakti
  • Mengandung banyak materi antar bintang

Galaksi irregular ini mengandung banyak materi antar bintang yang terdiri dari gas dan debu. Galaksi ini dibedakan menjadi dua jenis, yakni:

  1. Irreguler 1, tersusun atas bintang kelas B, O dan juga nebula yang terang. Jenis yang satu ini terdapat banyak nebula gas, gugusan bintang dan juga bintang maharaksasa. Contohnya adalah Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil.
  2. Irreguler 2, tidak terlihat adanya gugusan bintang yang dapat dipisahkan dari galaksi yang kemudian memperlihatkan susunan yang tak terbentuk atau amorfus
Ritaelfianis.com - Berbagi Ilmu dan Pengalaman © 2017 rita test