Loading…

Bisnis Online Modal 10ribu Hasil Jutaan Klik DISINI

Pengertian, sejarah dan latarbelakang Pemberontakan APRA

Pengertian, sejarah dan latarbelakang Pemberontakan APRA – APRA adalah kependekan dari Angkatan Perang Ratu Adil yang merupakan suatu bentuk pemberontakan yang pertama kali  terjadi setelah Indonesia mendapatkan kedaulatannya, dan diakui oleh Belanda.

Adapun tujuan dari diadakannya bentuk pemberontakan APRA ini adalah untuk mempertahankan adanya pasukan tersendiri pada negara yang termasuk didalam bagian Republik Indonesia Serikat atau RIS.

Padahal didalam konferensi antar Indonesia yang kegiatannya diadakan di Jogjakarta, menyatakan bahwa Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat atau APRIS merupakan suatu angkatan Perang Nasional.

Angkatan Perang Ratu Adil saat itu berada dibawah laskar kepemimpinan Kapten Raymond Westerling.

Gerakan tersebut digerakan oleh kolonialis Belanda yang bertujuan untuk melindungi kepentingan ekonomi negaranya sendiri.

Baca Juga : Sejarah dan Asal usul Candi Borobudur

Tujuan tersebutlah yang membuat Belanda menginginkan untuk tetap bertahan diwilayah Indonesia agar tetap dapat mempunyai pengaruh terhadap negara ini.

Sebagai politik untuk mendapatkan dukungan bagi gerakannya tersebut, Westerling mensiasati politik tersebut dengan meyakinkan rakyat  Indonesia dengan akan hadirnya ratu adil yang  membuat suatu perubahan situasi dari penderitaan akibat penjajahan Belanda menjadi kemakmuran seperti yang telah diprediksikan melalui ramalan Jayabaya.

Saat itu sebagian besar dari penduduk Indonesia sangat mempercayai akan prediksi yang diramalkan oleh Jayabaya tersebut yang berisikan  mengenai akan lhadirnya  seorang pimpinan yang dikenal denagn ratu adil.

Dan saat itu pula, sebagian besar dari masyarakat sangat mempercayai bahwa kepemimpinan dibawah ratu adil tersebut akan membentuk suatu pemerintahan yang adil dan bijaksana.

Harapan dari pemerintahan dimata masyarakat saat itu akan membuat  keadaan situasi negara menjadi akan dan damai, dan kehidupan seluruh rakyat  pun akan menjadi makmur dan sejahtera.

Didalam menjalanakan aksi gerakannya, APRA cenderung melakukan tindakan-tindakan yang bersifat anarkis.

Salah satu bentuk anarkis ini diwujudkan dengan terjadinya penyerangan di Kota Bandung pada tanggal 23 Januari 1950 dini hari.

Pada penyerangan ini, tentara APRA menyerang pasukan pada pos Cimindi, Cibeuruem dan Pabrik Mecaf.

Tindakan anarkis lainnya adalah dengan cara membunuh setiap anggota TNI yang berada didalam kota  dan berhasil merebut markas Divisi Siliwangi.

Dari penyerangan tersebut, sayangnya hanya hanya tiga orang tentara Indonesia yang berhasil menyelamatkan diri dari pengeboman .

Penyerbuan Kota Bandung ini telah mengorbankan lebih dari 79 anggota APRIS.

Selain itu juga banyak penduduk biasa yang turut serta menjadi korban akan keganasan penyerangan ini.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah RIS segera membuat inisiatif untuk mengirimkan pasukannya ke Bandung sebagai bala bantuan.

Seluruh satuan Mobil Brigade Polisi dari Jawa Timur dibawah pimpinan Komisaris Polisi II Sucipto Judodiharjo pun dikerahkan didalam aksi bala bantuan tersebut.

Disaat yang sama di Jakarta tengah dilangsungkan perundingan penting yang dilakukan antara Perdana Menteri Moh. Hatta dan Komisaris tinggi Belanda. Isi dari perundingan tersebut adalah diman Komisaris tinggi belanda telah memeberikan satu perintah kepada Mayor Jendral Engeles yang saat itu sebagai Komandan tentara Belanda di Bandung untuk memaksa Westerling beserta tentaranya segera meninggalkan Bandung

. Pada Sore itu juga pasukan APRA pun hengkang dari Bandung dan menyebarkan diri keberbagai pelosok.

Selain  melakukan gerakan di Kota Bandung, saat itu pasukan APRA juga merencanakan suatu gerakan yang  diadakan di Kota  Jakarta.

Pada saat itu pun Westerling melakukan suatu perjanjian kerja sama dengan Sultan Hamid II yang saat itu berposisi sebagai menteri negara tanpa portopolio didalam kabinet pemerintahan RIS. Berdasarkan  rencana yang dibuat, APRA akan  melakukan penyerangan di gedung kabinet yang tengah melakukan persidangan.

Mereka berencana melakukan penculikan dan pembunuhan atas semua menteri dan tokoh yang terdiri Sultan Hamengkubuono IX, Sekertaris Jenderal Kementrian Pertahanan Mr. Ali Budiarjo dan Pejabat Staf Angkatan Perang Kolonel T.B. Simatupang. Tetapi  akhirnya rencana tersebut berhasil dibatalkan karena sudah diketahui  oleh para aparat intelejent.

Pada Tanggal 22 Februari 1950  Westerling akhirnya keluar dari  Indonesia menuju Malaya dengan pesawat terbang Belanda. Dan dengan keluarnya  Westerling dari negari ini, para anteknya pun membubarkan diri.

Baca Juga : Sejarah Dan Asal Usul Pembentukan Budi Utomo

Ritaelfianis.com - Berbagi Ilmu dan Pengalaman © 2017 rita test