Loading…

Bisnis Online Modal 10ribu Hasil Jutaan Klik DISINI

Pengertian, Hukum, Syarat dan Rukun Wakaf

Pengertian, Hukum, Syarat dan Rukun Wakaf – Istilah wakaf sering kita dengar dimimbar masjid ataupun dalam setiap kajian agama.

Namun, masih banyak yang belum tahu mengenai pengertian dari wakaf itu sendiri. Untuk itu mari kita bedah, apa yang  dimaksud dengan wakaf dalam ajaran islam.

Wakaf memiliki beberapa definisi yang berbeda, untuk itu perlu dibahas apa saja pengertian-pengertian dari wakaf agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Wakaf menurut bahasa berarti menahan. Tetapi menurut istilah syara’ diartikan sebagai menahan suatu benda untuk dimanfaatkan bagi kebaikan dan kemajuan umat islam.

Baca Juga : Cara Menyiapkan Dana Untuk Berkurban

Maksudnya adalah benda tersebut tidak diperjual belikan, apalagi diwariskan. Melainkan disedekahkan untuk manfaat orang banyak.

Berikut ini beberapa pengertian wakaf menurut imam besar dan mahzab, diantaranya:

1). Mahzab syafi’I dan hambali

Mengartikan wakaf sebagai harta benda seseorang yang digunakan atau dimanfaatkan dalam segala bidang kemaslahatan dengan menetapkan harta tersebut sebagai taqarrub kepada Allah.

2). Mahzab hanafi

Wakaf adalah menahan harta-benda yang  dilepaskan kepemilikannya dan diberikan kepada Allah, untuk dimanfaatkan kepada manusia secara terus menerus. Dan tidak boleh dijual, dihibahkan, maupun diwariskan.

3). Imam Abu Hanafi

Menurut imam Abu Hanafi, wakaf merupakan upaya menahan harta benda atas kepemilikan seseorang yang diberikan atau shadaqahkan untuk dimanfaatkan bagi orang-orang tercinta.

Jadi menurut Abu Hanafi, benda yang sudah diwakafkan tetap dalam pengawas si pewakaf selama masih hidup, dan bisa diwariskan atau dijual oleh ahli warisnya.

4). Mahzab maliki

Wakaf adalah memberikan manfaat dari suatu benda, dimana harta secara fisiknya masih menjadi kepemilikan si pemberi manfaat dari harta tersebut.

Sedangkan wakaf menurut aturan pemerintah no. 28 tahun 1977 ialah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang membagi atau memisahkan kepemilikan dari sebagian hartanya. Baik berupa tanah milik maupun badan hukum untuk selama-lamanya.

Pemisahan kepemilikan itu bertujuan untuk kepentingan ibadah atau keperluan umum yang sesuai ajaran agama Islam.

Dari berbagai macam pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa wakaf dikategorikan sebagai semacam pemberian.

Namun hanya digunakan untuk memanfaatkan dari benda yang diwakafkan, dan bendanya masih tetap utuh.

Jadi harta yang bisa diwakafkan adalah harta yang tidak habis dipakai dan berpindah.

Contohnya tanah atau bangunan yang diwakafkan untuk membuat masjid, pesantren, jalan umum, pemakaman, dan lainya untuk kepentingan umat.

Jika melihat melihat dari pengertian wakaf, maka hukum wakaf sama dengan amal jariyah.

Amalan jenis ini (wakaf) tidak bisa disamakan seperti sedakah biasa, melainkan lebih besar pahala serta manfaatnya bagi si pewakaf.

Pahala dari wakaf akan terus mengalir selama harta benda itu masih digunakan dan bermafaat. Menurut hadis Muslim, hukum wakaf adalah sunah.

اِذَا مَاتَ ابْنَ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يَنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدِ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم)

Artinya: “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga (macam), yaitu sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang dimanfaatkan, atu anak shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan.

Selain itu menurut hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, harta yang diwakafkan tidak bisa diperjual belikan, hibah, maupun diwariskan. Berikut penuturan lengkap hadisnya:

Sesungguhnya Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Umar bertanya kepada Rasulullah SAW; Wahai Rasulullah apakah perintahmu kepadaku sehubungan dengan tanah tersebut? Beliau menjawab: Jika engkau suka tahanlah tanah itu dan sedekahkan manfaatnya! Maka dengan petunjuk beliau itu, Umar menyedekahkan tanahnya dengan perjanjian tidak akan dijual tanahnya, tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun syarat dan rukun saat melakukan wakaf, yaitu:

  1. Syarat wakaf
  • Harta yang diwakafkan untuk selama-lamanya, tidak ada batas waktu (takbid)
  • Tunai
  • Jelas orang yang diberi wakaf (mauquf alaih) dan harta yang diwakafkan (mauquf)
  1. Rukun wakaf
  • Si pewakaf (wakif), dengan syarat atas kehendak sendiri, berhak berbuat baik meskipun non islam.
  • Harta yang diwakafkan adalah barang yang tidak bisa dipindahkan dan tetap, serte memiliki manfaat. Harta merupakan milik sendiri.
  • Tempat berwakaf
  • Akad

Itulah pengertian dan penjelasan singkat mengenai wakaf. Semoga dengan penjabaran itu bisa membantu mengartikan apa itu wakaf dan tidak lagi kaget jika ada perbedaan pandangan mengenai wakaf.

Baca Juga : Hukum Melayat Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Pandangan Islam

Ritaelfianis.com - Berbagi Ilmu dan Pengalaman © 2017 rita test